Jumat, 21 Maret 2014

Seorang pria datang ke dokter kelamin dengan keluhan, “Dokter, alat kelamin saya kok merah–merah?”

Dokter pun menjawab, “Wah gawat itu, jangan-jangan anda terkena penyakit kelamin yang menular”.
Lalu dokter dan pria itu pun masuk ke kamar periksa untuk diperiksa oleh dokter tersebut, “Coba kita lihat alat kelamin saudara”.
Setelah melihat dengan teliti dokter itu pun berdiri dan kembali ke ruang prakteknya.
“Bagaimana dok, apa penyakit saya?”, tanya pria itu.
Dokter pun menjawab, “Lain kali bilang sama pacar kamu kalau memakai lipstik jangan tebal–tebal…”


PANJANG SEKALI....

Poltak anak Medan sedang kuliah di Jogya, ia kesengsem sama Sulastri, gadis manis asal Solo
suatu hari Poltak mengajak pacarnya Sulastri jalan2 kliling kota dengan motor RX-Kingnya.
ditengah perjalanan mereka ngobrol, karena motor melaju cepat, sulastri mulai protes.
Sulastri: mas jangan kesusu....(jangan terlalu cepat)
Poltak diam saja karena dikiranya dia duduk terlalu dekat dengan Sulastri, makan dengan sopan Poltak bergeser maju sedikit ke depan agar gak terlalu dekat dengan dada Sulastri. namun motor tetap saja melaju kencang
Sulastri: maaasss..... jangan kesusu tho...!!!(dengan logat jawa kental)
Poltak masih diam. tapi duduknya makin maju sampai ke tangki motor.
Sulastri: Mas ini, mbok ya jangan kesusuuuu.....
Poltak hilang kesabarannya, badannya makin maju sampai mepet stang motor, dan keluarlah logat bataknya...
Poltak: bahhh.... panjang benar susu kau Lastriii..... heran abang...


khusus17+

Setelah bercinta semalaman dengan hebat dengan pacarnya, si cowok gak sengaja menemukan foto laki-laki di bawah bantal kamar si cewek.
Dia pun mencoba menanyakan pada cewek nya.

Cowok: “foto siapa ini yank, pacarmu??”.
Cewek: “bukan beipz”. (dengan nada yang halus).
Cowok: “foto kakakmu??
”Cewek: “(bukan goblog!! “sambil memainkan kepunyaan si cowok di mulutnya).
Karena saking penasarannya si cowok pun bertanya skali lagi.
Cowok: “trus kalo bukan foto pacar atau kakakmu, pasti foto saudaramu yah???
”Cewek: “bukan beipz, itu foto aku sebelum di operasi.”
Cowok: @#A* Kejang-kejang


Pengalaman orang2 di klinik "TongFeng"

Sudah 3 tahun saya menderita sakit kepala sebelah.
Setelah sayaberobat ke klnik Tong Feng, kepala saya tinggal sebelah.

Dulu saya sering gonta-ganti pacar.
Setelah ke klinik Tongfeng, saya jadi rajin gonta-ganti kelamin. Trims tongfeng

Cucu saya alergi susu sapi.
Setelah 3x berobat ke klinik Tongfeng, syukurlah, sekiarang dia rajin minum susu saya

Dulu, pacar saya matanya suka jelalatan.
Setelah konsul ke klinik tongfeng, kini matanya belekan. Trims tongfeng.

Dulu, koruptor dihukum potong tangan.
Setelah ke klinik tongfeng, skrg koruptor dihukum potong masa tahanan

Dulu saya senang nonton motoGP.
Tapi sejak berkunjung ke klinik Tong Feng, saya jadi kecanduan nonton 3gp.

Teman saya kencing manis.
Setelah 2x ke klinik tongfeng, jd kencing teh manis,. 3x berobat menjadi kencing es teh manis.

Dulu saya suka mabok alkohol.
Setelah ke klinik tongfeng, sy jd suka mabuk timah panas. Trims tongfeng

Dulu saya banci.
Setelah ke klinik tongfeng, akhirnya saya mempunyai suami. Trims tongfeng.

Saya punya kebiasaan ngumpet dibalik pintu.
Setelah ke klinik tongfeng, mereka mengirim saya kebalik jeruji. Trims tongfeng.

Dulu saya sering kena setrap.
Setelah ke klinik Tongfeng, sekarang saya sering kena setrum. Trims tongfeng.

Saya sering telat datang ke sekolah.
Setelah ke klinik tongfeng, saya jd telat dtg bulan. Trims tongfeng.

Dulu, perut saya besar.
Setelah konsul ke tongfeng, kini dada saya yg membesar. Trim’s tongfeng

Dulu mama minta pulsa.
Setelah ke klinik tongfeng, syukurlah, skrg mama minta suami baru. Trims tongfeng.

Dulu saya sering bolos
psikotest di sekolah.
Setelah ke klinik tongfeng, skrg saya menjadi psikopat.

Saya sangat terobsesi dgn
lagu2 Rumor.
Setelah dirawat di klinik tongfeng, kini sy berubah jd butiran debu. Trims tongfeng

Saya bekerja sbg tukang gali kubur.
Setelah minum jamu dr klinik tongfeng, sekarang saya yg dikubur

Di sekolah, saya kurang mahir berbahasa inggris.
Setelah ke klinik tongfeng, saya jadi mahir berbahasa binatang.

Dulu, guru saya sering tidak masuk kelas.
Setelah ke klinik tongfeng, sekarang beliau masuk surga. Trim’s tongfeng

Dulu saya sering terlambat ke sekolah.
Setelah ke klinik tongfeng, skrg saya terlambat dapat jodoh

Dulu, saya sgt malu maju ke depan kelas.
Setelah ke klinik tongfeng, kini kemaluan sy sering maju ke depan

Setiap ke sekolah, sy slalu lupa bawa buku.
Setelah konsul ke klinik tongfeng, kini saya selalu lupa pake celana 




Senjata Makan Tuan

Seorang wartawan sedang meliput peristiwa kecelakaan. Karena banyak orang yg mengerumuni lokasi kecelakaan, wartawan tsb tdk dpt menerobos untuk melihat korban dari dekat. Setelah berpikir keras, wartawan tsb dpt ide.
"Minggir-minggir semua, saya ayah korban!" ia berseru. "Saya minta jalan.
" Benar saja.....kerumunan itu membiarkan dia lewat. Semua mata terarah kepada wartawan tsb. (wartawan GR, dalam hati: "Berhasil juga!!!) Ketika sampai di tengah kerumunan, ia terpana melihat... SEEKOR ANAK MONYET tergeletak tak berdaya!





lucu

DOKTER VS SINSHE : Karena terkena penyakit
kelamin,
Budi pergi ke dokter Engky
spesialis penyakit kulit
kelamin… Setelah diperiksa,
dokternya bilang..
”Ini penyakit berbahaya…
kelamin bapak musti di
amputasi supaya tdk menjalar
kemana2” Budi.. pun langsung lemas
dan nyaris putus asa..
dia minta waktu utk berpikir…
Saat pulang..Budi melewati
praktek sinshe Hwie, sinshe
tradisional.. lalu Budi masuk kesana.. Setelah melihat penyakitnya..
Sinshe : “waa..
ini emang penyakit belbahaya
dan langka..
loe dah pigi ke doktel.. ??”
Budi : “iya udh ngkoh.. kata dokter musti di amputasi”
Sinshe : “haiyaa.,
dasal doktel mata luitan..
Sikit-sikit opelasi…
sikit-sikit amputasi…
mau luit aja… ini tilak pellu li amputasi
laaaahhh. !!” Mendengar itu Budi pun lega..
dan sgt gembira..\=D/
Budi : Jadi kelamin saya Gak
perlu diamputasi..??”:D Sinshe : “Minum lamuan ini aja,
tlus ni salep di oles ditempat yg
sakit….
tilak pelu li potong,…
tunggu tiga hali aja. Budi : sembuh ya ngkoh..?? Sinshe : haiyyaa,,nanti copot
sendili..!;) Budi :  X_X :’(…

Rabu, 19 Maret 2014

berfikir adalah identitas kemanusiaan



Pernahkah anda bercermin? Melihat tampilan fisik dari diri anda, atau mencari tahu cacat dan kekurangan fisik yang anda miliki? Bagi manusia modern cermin adalah kebutuhan primer yang harus tersedia di ruang-ruang khusus, agar mereka selalu tampak elegan. Ketika kita menghadapkan diri kita ke arah cermin, kita akan menemukan sosok yang sangat mirip dengan diri kita, dari ujung kaki hingga ujung rambut, kita akan berkata itulah diri saya, setelah itu kita mulai mempersepsikan bahkan meyakini bentuk dan tampilan fisik dari diri kita. Lalu bagaimana kita bisa begitu yakin  bahwa sosok itu adalah bayangan dari diri  kita? Seberapa yakinkah kita bahwa cermin tak akan pernah berbohong? Yah, pertanyaan itu mungkin tak akan pernah menemukan jawaban yang memuaskan, bagi mereka yang telah menganggap berfikir dan bertanya sebagai candu. 

Di depan cermin anda adalah satu-satunya yang memiliki otoritas untuk menilai baik-buruknya diri anda, namun ketika anda keluar dan bertemu dengan banyak orang, mulailah jawaban-jawaban berbeda tentang diri anda muncul satu per satu. Ketika itu anda harus memilih antara mempercayai semuanya, salah satunya, atau justru tak percaya pada semuanya. Mungkin kita harus berterima kasih kepada cermin, karena ia selalu menampakkan diri kita apa adanya. Lalu mengapa cermin tak kuasa mengomentari kita tentang ini dan itu? jawabannya karena cermin adalah benda mati kita semua pasti tahu itu. Jadi mengapa manusia-manusia memiliki cara pandang yang berbeda-beda? Apa karena mereka memiliki kualitas pengindraan yang berbeda? Atau, karena mereka mereka memiliki cara berfikir yang berbeda? Kedua-duanya mungkin benar. Jadi manusia yang tak pernah berfikir tentang sesuatu atau mempersepsikan sesuatu tak lebih mulia dari sebuah cermin yang bisu, dan mereka yang selalu berkata sesuatu yang tidak benar akan lebih hina dihadapan cermin. Maka jadilah orang yang sering berfikir agar tidak menjadi korban dari kebohongan-kebohongan yang kerap kali diumbar oleh orang-orang yang licik.

Ada yang mengatakan bahwa perbedaan manusia dengan mahluk hidup lain (binatang, tumbuhan) terletak pada akalnya, perhatikan ketika terjadi kebakaran di suatu tempat, tumbuhan tak kuasa untuk menghindar apalagi lari, karena fitrahnya hanya hidup, bergerak pada posisinya, tumbuh dan berkembang sedangkan binatang akan berlari menghindari api karena dianugrahi insting untuk mengetahui bahaya, namun ia tak akan pernah kembali untuk mencoba memadamkan api, karena insting yang ia miliki adalah insting yang stagnan dan tidak berkembang, sehingga mereka mustahil belajar dari fenomena-fenomena yang ada. Dari kasus tersebut saya berani menyimpulkan bahwa manusia yang tak mencoba menghindari bahaya tak ubahnya seperti tanaman yang tak punya daya untuk menggerakkan dirinya walau sejengkal dan manusia yang ketika mendapatkan masalah kemudian lari dari masalah itu dan tak pernah kembali untuk menyelesaikannya tak ubahnya seperti binatang, bahkan lebih hina darinya. Hanya orang-orang yang rajin berfikir yang akan selalu menemukan solusi dari setiap permasalahan hidup.

Manusia adalah hewan yang berfikir, kata Al-ghazali suatu waktu. Siapa yang tak kenal tokoh yang berhasil mendialogkan antara filsafat dan tasawwuf ini, meskipun beberapa karyanya terlihat begitu menghakimi filsafat sebagai dalang kesesatan berfikir, dan menjadikan tasawwuf sebagai ilmu kebenaran hakiki. Dalam perdebatan panjangnya dengan para filsuf yang terekam dalam tahafut al-falasifah (kerancuan filsafat) yang kemudian dijawab oleh Ibnu Rusyd dalamtahafut at-tahafut (kerancuan yang rancu) dapat ditangkap bahwa sebenarnya Al-ghazali bukan menolak filsafat, tetapi menolak gaya berfikir sebagian para filsuf yang menggunakan filsafat untuk mendangkalkan keyakinan agama.

Kerangka Berfikir Ala Sekolah

Setiap kali diundang menjadi pembicara dalam forum diskusi tentang Kerangka Berfikir, saya selalu menyampaikan analisis saya tentang perkembangan kerangla berfikir manusia-manusia sekolahan dari waktu ke waktu. Siswa sekolah dasar misalnya memiliki corak berfikir yang putih, sehingga mereka terkadang hanya bisa menerima apa yang diajarkan sebagai sebuah kebenaran yang tak perlu di ganggu-gugat. Beranjak menuju sekolah menengah pertama, umumnya corak berfikir abu-abu adalah yang paling dominan, dimana seringkali mereka melakukan imitasi-imitasi terhadapa berbagai “trend” zaman tanpa kalkulasi baik-buruk. Di era ini para orang tua akan mulai dihantui kecemasan akan kenakalan-kenakalan menjelang masa pubertas anak. Sekolah menengah atas adalah masa transisi pola fikir yang cukup rawan, dimana seringkali puncak kenakalan remaja akan menemui titik kulminasinya, beberapa peristiwa tawuran antar pelajar SMA dan kasus video asusila pelajar seragam abu-abu adalah salah satu yang menyedihkan, walaupun pada tingkat ini mereka telah berada fase aqil balik, dimana nilai baik-buruk telah mendapat perhatian lebih bahkan serius. Juga pada tingkat ini indoktrinasi yang mereka terima akan mulai mengantarkan mereka menuju masa transisi dari fase labil menuju fase stabil baik secara spiritual, emosional maupun intelektual yang akan berlanjut pada fase selanjutnya yaitu fase menjadi mahasiswa.

Saya pernah mendengar seorang Ulama berkata bahwa pada masa transisi dari sekolah menengah menuju kampus banyak remaja yang memiliki ruang kosong dalam dirinya (mungkin ruang kesadaran spiritual) yang ketika salah sebuah doktrin mengisi ruang itu, remaja tersebut akan akan mengalami gejolak yang akan membawa perubahan yang mendasar pada dirinya. Sehingga akan banyak label doktrin dan ideologi yang siap menjemput para mahasiswa baru, proses indoktrinasi dan ideologisasi akan terus berlanjut hingga tahap dimana seorang mahasiswa telah menemukan titik balik kedewasaan berfikir, sehingga ia tak lagi sekedar membebe dan membeo pada produk pemikiran yang ada, tetapi telah mampu untuk juga berfikir kritis. 

Idealnya cara berfikir mahasiswa bukan lagi cara berfikir yang abu-abu ataupun hitam-putih, melainkan cara berfikir yang colourful (kritis) yang tidak melulu menganggap pengetahuan hanya tentang baik-buruk dan salah-benar, pengetahuan bisa mengandung sebuah nilai yang harus diperjuangkan, juga terkadang mengandung sebuah strategi untuk bertahan dan melawan arus yang tak lagi berpihak. Sehingga para mahasiswa harus turut dalam kontestasi perkembangan pemikiran yang lebih rumit dan kompleks, sehingga kekuatan referensial dengan modal bacaan yang melimpah akan membantu mahasiswa untuk menentukan keberpihakan dan sikap yang harus diambilnya. Mungkin tak semua orang mengalami fase-fase tersebut, khususnya mereka yang lari dari sekolah, karena beranggapan bahwa semua orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah.

Berfikirlah, karena subtansi dari manusia adalah akal dan akal tak berarti apa-apa tanpa berfikir!

filsafat yang sebenarx...tidak seperti perkataan jasman jamaluddin



Sebuah kesadaran awalnya lahir dari "membaca", membaca yang kauniyah, yang tampak dan yang terjamah oleh panca indra, membaca teks dengan simbol-simbol bahasa tertulis atau membaca setumpuk persepsi dan sudut pandang serta asumsi-asumsi yang menghadirkan banyak diskursus pemikiran, dilanjutkan dengan agenda kerja kritisisme untuk menyeleksi setiap ide hingga melahirkan sebuah produk pemikiran dalam bentuk yang baru atau sekedar memperbaharui ide yang telah ada, kemudian mencipta kesadaran ber-ide. Kesadaran yang lahir adalah sebentuk manifestasi nalar yang telah mendayahgunakan fungsi epistemologinya, sehingga aktifitas membaca menjadi produktif dan tidak hanya larut dalam dialektika bahasa tetapi bagaimana berdialektika dengan ide dan realitas.

Kadang sebuah kontemplasi akan melahirkan spekulasi-spekulasi terhadap berbagai hal, menghadirkan diri dalam sebuah prasangka, atau membawa diri menuju dugaan-dugaan yang polos, tak jarang kita menjadi pesimistik, semua itu ngawur dan tidak ilmiah, lalu kita mulai menzholimi diri dengan menganggap adalah hal yang lancang ketika berani berfikir tanpa pengetahuan yang super. Padahal secara sadar atau tidak sadar pada saat itu kita telah membebaskan nalar kita untuk menjelajahi cakrawala imajinasi yang luas tanpa harus diperhadapkan pada batasan-batasan atau defenisi-definisi logis-ilmiah dan kawan-kawannya. Dan tanpa sadar pula pada saat itu sebenarnya kita sedang berfilsafat.

Manusia : Mahluk yang Berfilsafat

Banyak orang yang mengklaim bahwa berfilsafat adalah sebuah aktifitas eksklusif  milik para pemikir kelas tertentu, berfilsafat adalah aktifitas dari kerja otak yang sangat melelahkan dan menyita waktu. sehingga jurusan filsafat di hampir seluruh universitas swasta ataupun negri di Indonesia adalah jurusan yang paling sepi  peserta didik. Bahkan banyak mahasiswa yang sebisa mungkin akan menghindari mata kuliah filsafat  karena dihantui momok stereotipe terhadap filsafat. Secara sederhana berfikir berarti berfilsafat, meskipun dalam perkembangannya berfilsafat lebih dimaknai sebagai sebuah proses berfikir yang rasional, kritis, radikal dan sistematis. namun menyederhanakan pengertian filsafat adalah sesuatu hal yang perlu untuk menghindari esklusifitasnya. Jadi semua orang sebenarnya selalu berfilsafat dalam kualitas yang berbeda-beda, sehingga mengatakan bahwa semua manusia adalah filsuf bukanlah argumentasi bohong, kecuali bagi mereka yang tidak mau mendayahgunakan dan memaksimalkan potensi akal yang jauh lebih unggul dari kecanggihan teknologi manapun di abad millenium ini. Hanya saja mereka yang meiliki pemikiran atau ide yang luar biasalah yang berhasil mencatatkan namanya dalam deretan pemikir-pemikir (Filsuf) yang sampai hari ini karya-karyanya masih menjadi bahan bacaan dan pembelajaran sebagai referensi pengetahuan di berbagai belahan jagat.

Socrates pernah menghadirkan sebuah konsep atau lebih tepatnya proyek pengetahuan tentang logos dan mitos, logos dimaknai sebagai pengetahuan-pengetahuan yang rasional dan dapat dibuktikan secara ilmiah, sedangkan mitos hanya berupa kepercayaan-kepercayaan yang distigmatisasi tidak rasional dan tidak dapat dibuktikan melalui pendekatan ilmiah. Sebagai bapak filsafat Socrates tentunya memahami betul konstalasi dunia pemikiran pada saat itu, sehingga dia bisa saja mencipta konsepsi-konsepsi sesuai dengan kecenderungan nalarnya. Melihat konteks Indonesia dengan lokalitas-lokalitas kultural yang plural, menggunakan konsepsi tersebut akan menggusur kekayaan nalar lokal yang merupakan identitas diri masing-masing empunya, Mengingat betapa banyak produk lokalitas kita yang divonis sebagai mitos, tidak masuk akal dan tidak logis oleh para pemikir oksidental. Bukan karena memang benar-benar tidak masuk akal atau tidak rasional tetapi justru  nalar berfikir merekalah yang tidak mampu menjangkaunya, dan seringkali kita merestui hal tersebut dan tidak lagi pernah mau mengenal, mengetahui dan memahami akar kultur oriental yang menjadi pondasi ke-dirian kita secara lebih mendalam. 

Saatnya mendekonstruksi dominasi opini bahwa hanya seorang dengan kemampuan  berfikir rasionallah yang memiliki otoritas untuk menentukan ilmiah dan non-ilmiah, logis dan tidak logisnya suatu idea atau pengetahuan, bahkan pemaksaan opini bahwa merekalah  yang berhak memonopoli kebenaran. Manusia adalah mahluk yang merdeka berfikir tanpa harus terikat asas legal-formal serta kualifikasi-kualifikasi tertentu, karena yang terpenting adalah bagaimana berfikir secara sadar diatas realitas dan ide dengan tidak megabaikan naluri kemanusiaan dan nurani sebagi mahluk yang ber-hati. Ilmu dan pengetahuan bukanlah sesuatu yang netral, di sana .akan selalu terkandung nilai-nilai yang menjadi acuan dan memiliki tujuan, maka mengetahui bagaimana dan untuk apa suatu ilmu atau pengetahuan itu lahir adalah hal yang wajib bagi mereka yang tidak ingin terjebak dalam kekakuan dan kebekuan berfikir. Dalam sejarahnya filsafat memang seringkali melahirkan gejolak, dari gejolak pemikiran hingga gejolak sosial yang menjatuhkan banyak korban para pemikir itu sendiri. Pernah dalam fakta sejarah sebuah otoritas agama dengan piciknya menghukumi seorang filsuf hanya karena perbedaan interpretasi kosmologi. akibat kecurigaan bahwa keberadaan filsafat akan mereposisi peran agama yang bersifat dokmatis-theologis, padahal sejatinya filsafat justru ingin menguatkan posisi agama yang kala itu mengalami degradasi yang sangat dalam akibat kejumudan dan kepicikan berfikir akibat kalap teks. Saya yakin semua agama memberikan kebebasan kepada umatnya untuk mendayahgunakan potensi akal pikiran dan nalar untuk meciptakan kemaslahatan-kemaslahatan bagi semesta kehidupan.

Bukanlah sebuah ketabuan ketika setiap manusia melakukan dekonstruksi-aktif terhadap setiap diskursus pemikiran yang paradigmatik, karena subyektifitas nalar adalah keniscayaan yang akan senantiasa hadir menyertai lahirnya ide dari seorang pemikir. "Cogito ergo sum" adalah produk subyektifitas nalar Descartes, yang mendeterminasi berfikir sebagai sumber eksistensi atau menjadi sebab sebuah eksistensi. Secara pragmatis hal itu sepenuhnya tidak salah, namun perlu ditinjau kembali dengan pendekatan yang lebih proporsional, yakni tidak semata-mata menjadikan akal dengan segala potensinya menjadi sumber atau pondasi eksistensi dengan mengesampingkan potensi lain yang telah Tuhan anugerahkan kepada manusia. Karena manusia bukan sekedar "Hewan yang berfikir" tapi juga dia yang memiliki hati dan nurani suci yang jauh dari sifat kebinatangan. Sejatinya fisafat yang menggunakan akal sebagai instrument utama tidak akan pernah bertentangan dengan hal yang bersifat kasuistik. karena filsafat bertujuan untuk mencari sebuah kebenaran yang lahir dari kesadaran kritis dan tidak semata-mata dogmatis. Ketika sebagian orang mengatakan bahwa berfilsafat akan menjauhkan diri dari Tuhan yang Maha abstrak, justru sebaliknya, filsafat akan membawa kita kepada keber-Tuhan-an yang bukan semata-mata karena faktor biologis dan warisan dokmatis, namun keber-Tuhan-an yang hakiki, dengan tetap berpedoman pada tuntunan wahyu Illahiah.

lfc

hangat dalam dingin

di atas dipan buram
tak ada suram
dingin hadir dengan kesejukan
ada angin coba datang menawarkan kesegaran

tapi maaf,.aku tak peduli pada angin dan dingin yang langit tawarkan
semangat berpacu
menyebar merata di hampir semua yang bercengkerama
suasana khidmat membuat semua larut dalam intimnya keakraban

ada selimut kehangatan dari butiran ide
yang terbenak di dalam rimbun harapan dengan keinginan
ada satu-dua buah yang menurutku begitu brillian
hingga tak ada yang mampu berkata tidak

kabut tebal dari asap rokok
berdamai dengan pekat malam, menyambut guyuran hujan
dan kita tak lagi takut dingin datang merenggut kehangatan

makassar,..yahh...tempat ini titik harmoni
ketika manusia biasa mencoba mengukir nama, dlam sejarah

YNWA